Rabu, 20 November 2013

Helen Keller : biography video

Jika kemaren aku ngepost tentang biografi Hellen Keller, sekarang videonya gantian :) .
Isinya juga sama-sama tentang biografi sih, cuma yang ini lebih singkat .
Video ini dulu yang pertama kali bikin aku terpana akan sosok Helen Keller..
Seseorang yang, dengan kekurangannya justru mampu menginspirasi banyak orang di dunia, termasuk aku.. :)


Apa Itu Kode Captcha?

CAPTCHA atau Captcha adalah suatu bentuk uji tantangan-tanggapan (challange-response test) yang digunakan dalamperkomputeran untuk memastikan bahwa jawaban tidak dihasilkan oleh suatu komputer. Proses ini biasanya melibatkan suatu komputer (server) yang meminta seorang pengguna untuk menyelesaikan suatu uji sederhana yang dapat dihasilkan dan dinilai oleh komputer tersebut. Karena komputer lain tidak dapat memecahkan CAPTCHA, pengguna manapun yang dapat memberikan jawaban yang benar akan dianggap sebagai manusia. Oleh sebab itu, uji ini kadang disebut sebagai uji Turing balik, karena dikelola oleh mesin dan ditujukan untuk manusia, kebalikan dari uji Turing standar yang biasanya dikelola oleh manusia dan ditujukan untuk suatu mesin. CAPTCHA umumnya menggunakan huruf dan angka dari citra terdistorsi yang muncul di layar.
Bagi sebagian besar pengguna internet, istilah CAPTCHA masih terasa asing untuk didengar dan dimengerti. Namun pada kenyataannya hampir seluruh aktifitas dunia maya yang berhubungan dengan form, akan disertakan kode CAPTCHA sebagai Security Code.Security Code?? Ya…CAPTCHA adalah deretan karakter atau symbol yang ditampilkan secara acak pada halaman form berupa gambar samar samar. Pengguna diharuskan menulis deretan karakter tersebut kedalam sebuah field sebagai syarat untuk dapat mengirimkan atau melanjutkan aktifitas pengisian data pada form.
kenapa harus dibedakan?  Karena, banyak banget “penjahat form” alias program SPAM COMMENT yang bisa aja menyerang website kita kapanpun dan tanpa “sopan santun” mereka menyisipkan comment pada guestbook/forum yang isinya bisa berupa promosi atau malah link2 kesitus-situs yang gak jelas.
Nah  untuk membedakan aktifitas pengisian form yang dilakukan manusia atau bot pada website, maka muncul ide bagaimana melakukan generating karakter menjadi image. Mengapa  harus image? Karena, bot sementara ini belom ada yang bisa membaca karakter yang sudah digenerate jadi image.
Captcha ini dibuat oleh komputer secara otomatis, sehingga komputer sendiri tidak dapat mengenalinya
Umumnya captha berbentuk gambar yang di dalamnya terdapat kode. Kode ini bisa dengan mudah dibaca manusia, namun komputer akan kesulitan membaca kode dalam gambar itu. Dengan cara ini, hanya manusia yang bisa melanjutkan prosesnya, sedangkan komputer/robot /spam akan gagal.
Bagi komputer, sebuah gambar hanyalah kumpulan kode-kode warna dari setiap pixelnya. Dibutuhkan proses yang cukup rumit untuk bisa mengenali objek pada gambar, apalagi untuk memahami arti sebuah gambar. Sedangkan bagi manusia hanya dalam hitungan seper sekian detik kode dalam gambar sudah terbaca.


Bagaimana Seharusnya Captcha?
Captcha adalah soal yang dibuat oleh mesin dan dirancang hanya bisa dijawab dengan sempurna oleh manusia, bukan oleh mesin. Jadi sesuai definisi tersebut, captcha haruslah memiliki kriteria:

* Tidak bisa dijawab mesin dengan sempurna
* Mudah dijawab manusia

Captcha harus dirancang sedemikian hingga memenuhi kriteria di atas. Jadi kalau sampai ada captcha yang mempermudah mesin dan mempersulit manusia itu sebenarnya bukan captcha. Seperti apa bentuk captcha yang baik? Sebelumnya mari kita lihat dulu berbagai bentuk penyimpanan informasi.

Informasi dalam komputer bisa direpresentasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari yang paling sederhana sampai paling kompleks:

* Text
* Image
* Suara
* Video

Text adalah bentuk penyimpanan informasi paling primitif dan sederhana. Informasi yang diambil dari text tidak memerlukan pemrosesan apa-apa, sehingga bisa langsung diambil mesin. Mesin tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan informasi dalam bentu text.

Bentuk yang agak rumit adalah image dan suara. Image dan suara dalam komputer disimpan dalam bentuk kumpulan warna pixel atau frekuensi suara kamudian diencode dalam format tertentu. Image dan suara mengandung informasi yang tersirat, implisit. Informasi dalam image dan suara harus diproses dengan perhitungan dan komputasi yang kompleks untuk bisa menangkap informasi yang ada di dalamnya.

Bentuk yang paling kompleks adalah video. Video adalah kumpulan image dan suara yang disusun sedemikian rupa sehingga menampilkan animasi. Walaupun memilii tingkat kompleksitas tertinggi, jarang ada captcha dalam bentuk video karena pertimbangan besarnya ukuran file video dibandingkan file gambar atau suara.

Jadi bentuk captcha yang paling umum adalah berupa image. Informasi dalam image tidak mudah dibaca mesin, namun dari segi ukuran juga tidak terlalu besar. Namun tidak semua captcha berupa image adalah captcha yang baik, karena bila kode dalam captcha terlalu bersih, mesin bisa membaca dengan sempurna.


Tips Mudah Melewati Kode Captcha
Sebuah trik yang mungkin akan berguna saat kamu akan melakukan sesuatu (membuat akun email, facebook, dll). Tapi sebelumnya kamu harus memasukkan kode captcha. 
Trik berikut bukanlah melewati kode captcha tanpa memasukkan kode tapi trik berikut setidaknya mengurangi beban kita saat diharuskan menulis 2 kata yang tersedia. 


Triknya yaitu saat bertemu dengan 2 kata kode captcha, maka yang perlu kita tulis hanyalah sebuah kata yang terlihat aneh / dicetak miring saja, sedangkan kata yang terlihat normal abaikan saja. 


Misalnya ada kamu mau sign up email atau yang lain, nah terus kamu disuruh untuk menuliskan kode captcha seperti dibawah ini




Diatas ada tulisan mcintosh dan Jorge. Nah untuk gampangnya, kamu cukup menuliskan kata yang dicetak miring saja, yaitu mcintosh. Sedangkan kata Jorge diabaikan saja.

Semoga bermanfaat J


*Dari berbagai sumber

Senin, 18 November 2013

Helen Keller : Si buta yang mampu menginspirasi dunia

HELEN KELLER

Helen Keller mempunyai nama lengkap Helen Adams Keller. Ia dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, sebuah kota kecil di barat laut Alabama, Amerika Serikat. Hellen merupakan anak perempuan dari pasangan Kapten Arthur Henley Keller dan Kate Adam Keller.

Kate Keller berpostur tinggi bagai patung pirang dengan mata biru. Ia 20 tahun lebih muda dari suaminya, Kapten Keller, orang Selatan yang loyal yang dengan bangga mengabdi sebagai tentara sekutu selama perang sipil.

Rumah yang mereka tinggali sederhana, bercat putih, rumah papan yang dibangun pada tahun 1820 oleh buyut Helen. Saat Helen lahir, keluarganya jauh dari kaya, dengan Kapten Keller yang mencari nafkah sebagai pemilik perkebunan kapas dan editor mingguan sebuah Koran lokal “North Alabamian”. Ibu Helen sebaik pekerjaan yang dilakukannya di perkebunan, ia juga menyimpan uang dari membuat sendiri mentega, lemak babi, bacon, dan ham.


Pada saat dilahirkan, Helen merupakan bayi cantik yang normal. Tapi kehidupan Helen berubah secara dramatis pada saat Helen berusia 19 bulan. Ia jatuh sakit. Hingga hari ini, penyakitnya masih merupakan misteri. Dokter-dokter pada zamannya menyebutnya “demam otak”, sedangkan dokter-dokter modern berpendapat bahwa itu mungkin demam jengkering atau radang selaput. Sampai-sampai para dokter memperkirakan umur Helen hanya tinggal beberapa hari lagi saja. Ketika akhirnya demamnya reda, keluarga Helen bergembira meyakini puteri mereka akan sehat kembali.

Namun, ibu Helen
mulai merasa cemas ketika memperhatikan anak perempuannya gagal merespon ketika bel makan malam berbunyi atau ketika ia melewati tangannya di depan mata putrinya. Dengan begitu menjadi jelas bahwa penyakit Helen telah membuatnya buta dan sekaligus tuli. Helen menjadi anak yang sangat sulit, ia menghancurkan piring-piring dan lampu-lampu serta meneror seluruh anggota keluarga dengan teriakannya dan tingkahnya yang penuh amarah. Para kerabat menganggapnya sebagai monster dan berpendapat bahwa ia harus ditempatkan di sebuah institusi kejiwaan.

Ketika Helen berusia 6 tahun, keluarganya pun menjadi putus asa. Mereka mendapat konfirmasi bahwa Helen tidak akan pernah melihat atau mendengar lagi tapi mengatakan pada mereka agar tidak menyerah, dokter yakin Helen dapat diajari dan ia menyarankan mereka untuk mengunjungi ahli setempat yang menangani masalah anak-anak tuli. Ahli ini adalah
Dr. Alexander Graham Bell, sang penemu telepon, Bell sekarng berkonsentrasi atas apa yang ia anggap sebagai panggilan jiwanya yang sejati, mengajar anak-anak tuli.

Alexander Graham Bell menyarankan agar Keller menulis surat ke Michael Anagnos, direktur Institusi Perkins dan suaka bagi yang buta di Massachussets, dan memintanya untuk mencoba mencarikan seorang guru bagi Helen. Michael Anagnos mempertimbangkan kasus Helen dan segera merekomendasikan guru yang dahulu mengajar di institusi itu, wanita itu adalah Anne Sullivan.

Anne Sullivan
sendiri telah kehilangan sebagian besar penglihatannya ketika berusia 5 tahun. Pada Oktober 1880, Anne akhirnya pergi dan mulai memasuki pendidikannya di Institursi Perkins. Pada suatu musim panas selama waktunya di institusi, Anne mendapat 2 kali operasi pada kedua matanya, yang membuatnya mendapatkan cukup penglihatan untuk dapat membaca tulisan secara normal selama periode waktu yang singkat.

Anne lulus dari Perkins pada tahun 1886 dan mulai mencari pekerjaan. Mendapatkan pekerjaan adalah luar biasa sukar untuk Anne. Hal ini diakibatkan dari penglihatannya yang buruk. Hingga suatu ketika ia mendapat tawaran dari Michael Anagnos untuk bekerja sebagai guru bagi Helen Keller, seorang yang tuli, buta dan bisu. D
an meskipun ia tidak memiliki pengalaman di bidang ini, ia menerimanya dengan senang hati.

Pada 3 Maret 1887
untuk pertama kalinya Anne tiba di rumah Helen di Tuscumbia dan bertemu Helen Keller. Anne segera mulai mengajar Helen mengeja dengan jari. Mengeja kata “doll (boneka) untuk menandai hadiah yang dia bawa untuk Helen. Kata berikutnya yang ia ajarkan pada Helen adalah “cake(kue). Walaupun Helen dapat mengulangi gerakan-gerakan jari ini, ia tidak dapat sepenuhnya memahami apa artinya. Dan ketika Anne berjuang untuk mencoba membantunya untuk memahami, ia juga mencoba berjuang mengontrol kelakuan buruk Helen yang terus berlanjut.

Anne dan Helen pindah ke sebuah pondok kecil di atas tanah yang masih menjadi bagian dari rumah utama untuk memperbaiki tingkah laku Helen. T
ermasuk memperbaiki tingkah laku Helen di meja makan. Helen biasa makan dengan tangannya yang sembarangan mencomot dari piring semua orang yang ada di meja. Anne mencoba memperbaiki sikap Helen di meja makan dan membuatnya menyisir sendiri rambutnya dan mengancingkan sepatunya. Anne menghukum tingkahnya yang penuh amarah itu dengan menolak “berbicara” dengan Helen dengan tidak mengejakan kata-kata dengan tangannya.

Da
n dalam minggu-minggu selanjutnya, perilaku Helen mulai ada kemajuan. Keakraban diantara ke-2nya pun bertambah erat. Setelah sebulan Anne mengajar, keajaiban pun terjadi. Sampai saat itu Helen belum juga memahami sepenuhnya arti kata-kata. Ketika Anne menuntunnya ke pompa air pada 5 April 1887, semua itu berubah. Sewaktu Anne memompa air ke atas salah satu tangan Helen, Anne mengeja kata “water” (air) ke sebelah tangan yang lainnya. Sesuatu tentang hal ini menjelaskan arti kata-kata itu ke benak Helen, dan Anne segera melihat di wajahnya bahwa Helen akhirnya mengerti.

Helen lalu menceritakan kejadian itu:

“Kami berjalan menuruni jalanan ke rumah, ditarik oleh aroma sarang lebah yang tertutup. Seseorang menggambar air dan guruku menempatkannya di bawah tanganku sesuatu yang memancar. Sewaktu arus dingin yang memancar, di atas sebelah tanganku yang lain guruku mengeja kata air, awalnya lambat, lalu diulangi lagi. Aku masih berdiri, seluruh perhatianku terpusat pada gerakan-gerakan tangannya. Tiba-tiba aku merasa kesadaranku yang berkabut akan sesuatu yang telah terlupakan, suatu ingatan yang mendebarkan kembali, dan bagaimana misteri dari bahasa terungkap olehku.”

Helen segera meminta pada Anne nama dari pompa untuk diejakan di atas tangannya dan kemudian nama dari terali. Sepanjang jalan pulang ke rumah Helen belajar nama dari segala sesuatu yang disentuhnya dan juga menanyakan nama untuk Anne. Anne mengeja kata “Guru” ke atas tangan Helen. dalam beberapa jam berikutnya Helen belajar mengeja 30 kata-kata baru.

Kemajuan Helen sejak saat itu mencengangkan. Kemampuannya untuk belajar maju pesat melampaui dari apa yang pernah dibayangkan orang lain sebelumnya dalam diri seseorang yang tanpa penglihatan atau pendengaran. Tak terlalu lama sebelum akhirnya Anne mengajar Helen untuk membaca, pertama-tama dengan huruf timbul, lalu dengan Braille, dan menulis dengan mesin tik biasa dan mesin tik Braille.

Michael Anagnos tetap mempromosikan Helen, satu dari banyak artikel yang ia tulis menyatakan bahwa “ia adalah sebuah fenomena.” Artikel ini menuntun ke dalam suatu gelombang publisitas tentang Helen dengan foto ia sedang membaca Shakespeare atau membelai anjingnya yang muncul dalam surat-surat kabar nasional.


Helen menjadi terkenal, dan yang lebih baik lagi ketika mengunjungi Alexander Graham Bell, ia mengunjungi Presiden Cleveland di White House. Pada 1890 ia tinggal di Institusi Perkins dan diajar oleh Anne. Di bulan Maret tahun itu Helen bertemu Mary Swift Lamson yang dalam tahun-tahun berikutnya mencoba mengajar Helen berbicara. Ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan Helen dan meskipun ia belajar memahami apa yang orang lain katakan melalui meraba bibir dan tenggorokan mereka, usahanya untuk berbicara terbukti di tahap ini tidak berhasil. Hal ini lalu bertalian dengan fakta bahwa pita suara Helen sebelumnya tidak dilatih dengan semestinya untuk diajari berbicara.

Pada 4 November 1891, Helen mengirimi Michael Anagnos sebuah hadiah ulang tahun berupa cerita pendek yang ia tulis berjudul “The Frost King” (Raja Embun Beku). Anagnos sangat senang dengan ceritanya hingga ia segera mempublikasikannya dalam sebuah majalah yang disambut sebagai karya yang cukup penting dalam sejarah sastra.

Namun, segera didapati bahwa cerita Helen sama dengan salah satu cerita yang ditulis Margaret Canby yang berjudul “The Frost Fairies (Peri Embun Beku). Hal ini pada akhirnya mengakhiri pertemanan Helen dan Anne dengan Michael Anagnos. Michael merasa ia telah dibuat kelihatan bodoh oleh apa yang ia anggap sebagai penipuan oleh Helen.

Diadakan sebuah investigasi dan didapati bahwa Helen sebelumnya telah membaca cerita itu beberapa tahun sebelumnya dan kelihatan jelas mengingatnya.

Helen selalu mengklaim bahwa ia tidak mengingat cerita yang aslinya dan selalu diingat bahwa Helen pada waktu itu masih berusia 11 tahun, bagaimanapun, kejadian ini menciptakan kerutan yang tidak akan pernah pulih antara Helen, Anne dan Anagnos. Hal itu juga menciptakan keraguan besar dalam pikiran Helen, apakah semua pemikiran-pemikirannya benar-benar berasal dari dirinya.

Pada tahun 1894 Helen dan Anne bertemu John D. Wright dan Dr. Thomas Humason yang berencana untuk mendirikan sebuah sekolah untuk mengajar berbicara orang-orang yang tuli di New York. Helen dan Anne sangat bersemangat atas rencana ini dan kepastian dari dua pria itu bahwa kemampuan Helen berbicara dapat diperbaiki sehingga membuat mereka lebih bersemangat. Dengan begitu Helen setuju untuk menghadiri sekolah Wright Humason bagi tuna rungu.
Sayangnya kemampuan bericara Helen tidak pernah benar-benar diperbaiki, hanya berupa suara-suara yang hanya Anne dan lainnya yang sangat dekat dengannya yang dapat mengerti.

Helen pindah ke Cambridge, sekolah bagi gadis-gadis muda pada tahun 1896 dan di musim gugur tahun 1900 memasuki Perguruan Tinggi Radcliffe, menjadi orang bisu tuli pertama yang pernah mengikuti institusi pembelajaran yang lebih tinggi.

Hidup di Radcliffe sangat sulit bagi Helen dan Anne dan jumlah kerja yang sangat besar turut menyebabkan memburuknya penglihatan Anne. Selama waktu mereka di perguruan tinggi, Helen menulis tentang hidupnya. Dia menulis cerita dengan mesin tik Braille dan mesin tik biasa sekaligus. Pada saat inilah Helen dan Anne bertemu John Albert Macy yang menolong mengedit buku Helen yang pertama “The Story of My Life” – ‘Kisah Hidupku’, yang diterbitkan pada tahun 1903 dan meskipun pada awalnya kurang baik, kemudian sejak itu menjadi sesuatu yang klasik.

Pada 28 Juni 1904 Helen lulus dari Perguruan Tinggi Radcliffe, menjadi orang bisu tuli pertama yang mendapat gaji dengan gelar seni. John Macy menjadi teman baik Helen dan Anne dan pada Mei 1905 John dan Anne menikah. Nama Anne sekarang berubah menjadi Anne Sullivan Macy. Mereka bertiga tinggal bersama di Wrentham, Massachussets, dan selama waktu ini Helen menulis “The World I Live In” – ‘Dunia yang Kutinggali.’ Menampakkan waktu pertama kali pemikiran-pemikirannya tentang dunianya. Juga selama waktu ini John Macy memperkenalkannya ke dunia baru dan cara revolusioner untuk melihat dunia. Dan pada 1909 Anne menjadi anggota partai Sosialis di Massachussets. Pada 1913 “Out of The Dark – Keluar dari Gelap” dipublikasikan. Ini adalah sebuah seni essai sosialisme dan berdampak pada tenggelamnya imej Helen terhadap publik.

Helen dan Anne mengisi tahun-tahun ini dengan mengadakan tur, memberikan ceramah, berbicara tentang pengalaman-pengalamannya dan kepercayaannya pada banyak orang yang terpikat mendengarnya. Apa yang ia katakan diterjemahkan kalimat demi kalimat oleh Anne Sullivan dan diikuti oleh sesi tanya jawab.
Meski Helen dan Anne menghasilkan kehidupan yang baik dari ceramah-ceramah mereka, pada 1918 permintaan ceramah untuk Helen berkurang dan mereka melakukan tur dengan hati yang lebih bercahaya sandiwara Vaudeville, yang mendemonstrasikan pemahaman Helen yang pertama atas kata ‘air’. Sandiwara ini sukses besar sejak penampilan perdana, salah satu ulasan diantaranya berbunyi sebagai berikut:

“Helen Keller menaklukkan, dan Senin sore, penonton di istana, satu dari kritikus terkritis dan tersinis di dunia, adalah dirinya.”

Pada waktu ini mereka juga ditawarkan kesempatan membuat sebuah film di Hollywood dan mereka menangkap kesempatan ini, ”Deliverance – Pembebasan”, cerita hidup Helen dibuat. Helen, bagaimanapun, tidak senang dengan keglamoran pada filmnya dan sayangnya terbukti tidak menghasilkan sukses finasial seperti yang mereka harapkan.

Penampilan vaudeville berlanjut dengan Helen menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam skala luas tentang hidupnya dan pandangan politiknya dan Anne menerjemahkan jawaban-jawaban Helen untuk para hadirin yang terpikat.
Pendapatan mereka meningkat hingga $2000 dalam seminggu, patut diperhitungkan pada waktu itu. Pada tahun 1918 Helen, Anne dan John pindah ke Forest Hills di New York. Helen memakai rumah baru mereka sebagai markas atas tur penggalangan dananya bagi institusi tuna netra Amerika. Ia tidak hanya mengumpulkan uang, tapi juga berkampanye tanpa mengenal lelah untuk meringankan kondisi kehidupan dan pekerjaan orang-orang tuna netra yang pada waktu itu biasanya dididik dengan buruk dan tinggal di rumah sakit. Usaha kerasnya adalah faktor utama yang merubah kondisi-kondisi ini.

Ibu Helen, Kate meninggal pada 1921 karena penyakit yang tak diketahui dan hal ini menjadikan Anne sebagai satu-satunya orang yang terus menerus ada pada kehidupan Helen. Namun pada tahun yang sama Anne jatuh sakit lagi dan ini diikuti pada tahun 1922 oleh bronchitis akut yang membuat Anne tak dapat bicara lebih dari berbisik dan dengan begitu membuatnya tidak mampu lagi bekerja dengan Helen di panggung. Pada waktu ini, Polly Thomson, mulai b ekerja pada Helen dan Anne pada 1914 sebagai sekretaris, mengambil peran menjelaskan apa yang dimaksud Helen kepada publik teater.

Mereka juga menghabiskan banyak waktu mengadakan tur dunia menggalang dana bagi orang-orang tuna netra. Pada 1931 mereka bertemu Raja George dan Ratu Mary di Istana Buckingham yang mengungkapkan bahwa mereka sangat terkesan dengan kemampuan Helen untuk memahami apa yang orang katakan dengan meraba.

Sedangkan kesehatan Anne semakin memburuk dan dengan berita meninggalnya John Macy pada 1932, meski pernikahan mereka tidak bertahan beberapa tahun sebelumnya, nyawanya akhirnya tak tertolong. Anne meninggal pada 20 Oktober 1936.

Setelah Anne meninggal, Helen dan Polly pindah ke Arcan Ridge, di Westport, Connecticut, yang menjadi rumah Helen hingga akhir hidupnya.

Setelah Perang Dunia II, Helen dan Polly menghabiskan bertahun-tahun melakukan perjalanan keliling dunia menggalang dana untuk yayasan di Amerika untuk tuna netra di luar negri. Mereka mengunjungi Jepang, Australia, Amerika Utara, Eropa dan Afrika.

Sambil lalu selama waktu ini Helen dan Polly belajar bahwa api yang merusakkan rumah mereka di Arcan Ridge. Meskipun rumah itu akan dibangun kembali, sebaik apapun kenang-kenangan yang Helen dan Polly rasakan kehilangannya juga merusakkan buku Helen yang terakhir yang telah dikerjakannya tentang Anne Sullivan yang berjudul “Guru.”

Juga selama waktu ini kesehatan Polly Thomson mulai memburuk, sementara itu di Jepang ia mengalami strok ringan. Dokter menyatakan Polly untuk berhenti mengikuti tur yang terus menerus yang ia jalani bersama Helen, dan meskipun awalnya hal ini sedikit memperlambat mereka, turnya dilanjutkan sekali lagi setelah Polly pulih.

Pada tahun 1953 sebuah film dokumenter “Tak Terkalahkan” dibuat yang mengisahkan kehidupan Helen, film ini memenangkan Academy Award sebagai film dokumenter terbaik. Hal ini bersamaan waktunya dengan Helen mulai mengerjakan lagi bukunya “Guru” 7 tahun setelah buku aslinya musnah, buku ini akhirnya diterbitkan pada tahun 1955.

Polly Thomson terserang stroke lagi pada tahun 1957, ia tidak pernah benar-benar pulih dan akhirnya meninggal pada tanggal 21 Maret 1960. Abunya disimpan di Katedral Nasional di Washington DC bersebelahan dengan abu Anne Sullivan. Perawat yang dibawa untuk merawat Polly dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Winnie Corbally, yang kemudian merawat Helen sampai tahun-tahun terakhir hidupnya.

Pada tahun 1957 “Pekerja Ajaib” pertama kali dipertontonkan. Sebuah drama yang memotret kesuksesan pertama Anne Sullivan berkomunikasi dengan Helen kecil, pertama kali ditampilkan sebagai tayangan di televisi di Amerika Serikat.

Pada tahun 1959 ditulis ulang untuk dipentaskan di Broadway dan mendapat sambutan hangat. Kesuksesannya berlangsung selama hampir 2 tahun. Pada tahun 1962 drama ini diangkat ke dalam sebuah film dan aktris-aktris yang memerankan Anne dan Helen, keduanya menerima Oscar atas peran mereka.

Pada Oktober 1961 Helen mengalami serangan stroke pertama dari serangkaian stroke yang ia alami dan membuatnya menarik diri dari publik. Ia menghabiskan tahun-tahun yang tersisa dirawat di rumahnya di Arcan Ridge.

Tahun-tahun terakhir hidupnya bagaimanapun bukannya tanpa kesenangan dan pada tahun 1964 Helen dianugrahi medali kemerdekaan, penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada penduduk sipil, diserahkan oleh Presiden Lyndon Johnson. Setahun kemudian ia terpilih menjadi salah satu wanita yang diabadikan di Hall of Fame di sebuah pameran dunia di New York.

Pada 1 Juni 1968 di Arcan Ridge, Helen Keller meninggal dengan damai dalam tidurnya. Jenazahnya dikremasi di Bridgeport, Connecticut dan sebuah jasa pemakaman mengatur agar guci abunya ditempatkan di Katedral Nasional di Washington yang lalu diletakkan bersebelahan dengan abu Anne Sullivan dan Polly Thomson.

Hari ini tempat peristirahatan terakhir Helen adalah makam yang populer di kalangan turis dan plakat perunggu didirikan untuk memperingati hidupnya berikut dengan ukiran yang ditulis dalam huruf Braille:

“Helen Keller dan sahabat tersayangnya Anne Sullivan Macy terkubur di Columbarium di belakang kapel ini”

Begitu banyak orang yang mengunjungi kapel dan menyentuh titik-titik huruf Braille itu, sehingga plakat itu sudah diganti 2 kali.

Jika Helen Keller terlahir hari ini, hidupnya tak diragukan akan sepenuhnya berbeda. Mimpinya selama masih hidup untuk dapat berbicara, suatu hal yang ia tak pernah dapat menjadi ahlinya. Hari ini metode pengajaran telah ada yang dapat menolong Helen untuk mewujudkan mimpi ini. Apa yang akan dilakukan Helen dengan teknologi yang tersedia hari ini bagi orang-orang tuna netra dan tuna rungu? Teknologi yang memampukan orang-orang tuna netra dan tuna rungu, seperti Helen untuk berkomunikasi secara langsung dan mandiri, dengan setiap orang di dunia.

Helen Keller mungkin tidak secara langsung bertanggung jawab atas pembangunan teknologi ini dan metode pengajarannya. Tapi dengan pertolongan Anne Sullivan, melalui tulisan-tulisannya, ceramah-ceramahnya dan cara ia menjalani hidupnya, ia telah menunjukkan kepada jutaan orang bahwa cacat bukanlah akhir dari dunia.


Dalam kata-kata Helen sendiri:

“Publik harus belajar bahwa orang buta bukanlah seorang jenius atau aneh atau idiot. Dia memiliki pikiran yang dapat diedukasi, tangan yang dapat dilatih, ambisi-ambisi yang adalah benar baginya untuk bekerja keras mewujudkannya dan adalah tugas publik untuk menolongnya menjadikan dirinya yang terbaik bagi dirinya jadi ia dapat memenangkan cahaya melalui bekerja”

“Mereka merampas apa yang seharusnya adalah mataku
(Tapi aku mengingat Milton’s paradise)
Mereka merampas apa yang seharusnya adalah telingaku
(Beethoven datang dan menghapus air mataku)
Mereka merampas apa yang seharusnya adalah lidahku
(Tapi aku dapat berbicara dengan Tuhan ketika aku masih muda)
Tuhan tidak akan membiarkan mereka merampas jiwaku.
Memilikinya, aku masih memiliki seluruhnya.




Kamis, 14 November 2013

Pesankan Aku Tempat di Neraka Tuhanmu.!

Ini kasah nyata ( katanya :v )..  aku juga bacanya dari blog temen.. eh aku copas aja deh disini.. hihi.. biar nyebar kemana-mana.. plus sekalian jadi pengingat untuk kita.. bahwa kematian itu bisa datang kapan dan dimana saja.. Gak peduli kita lagi makan kek, lagi main kek.. yah pokoknya kita harus siap kapanpun izrail akan menjemput kita.. dan.. semoga ketika izrail datang,kita justru menyambutnya seperti baru kedatangan teman yang sudah lama terpisah dari kita.. alias kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah..

silahkan dibacaa... :))

_____

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. 
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.

Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.

Salah seorang mencoba mendekatinya, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!


Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a'lam.


"Sesungguhnya penasehat yang paling baik bagi kehidupan itu adalah KEMATIAN...."

Analytical Exposition

Analytical Exposition adalah jenis teks yang termasuk keadalam jenis Argumentation Text, dimana teks tersebut berisi tentang pemikiran terperinci penulis tentang sebuah fenomena yang ada di sekitar.
Tujuan dari teks Analytical Exposition adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang dihadirkan adalah topik yang penting untuk dibahas, dengan cara pemberian argument-argument atau pendapat-pendapat yang mendukung main idea atau topik tersebut.


Generic Structure 

1. Thesis
Dalam bagian Thesis, penulis mengenalkan tentang topik utama atau main idea yang akan dibahas. Thesis selalu berada di paragraph pertama dalam teks Analytical Exposition. 

2. Argument
Dalam bagian ini penulis menghadirkan argumen-argumen atau pendapat-pendapat yang mendukung main idea penulis, biasanya dalam sebuah teks Analytical Exposition terdapat lebih dari dua argumen. Semakin banyak argumen yang ditampilkan, pembaca akan semakin percaya bahwa topik yang dibahas adalah topik yang sangat penting atau membutuhkan perhatian.


3. Reiteration
Bagian ini merupakan bagian penutup dari sebuah teks Analytical Exposition. Reiteration selalu terletak di akhir paragraf. Reiteration berisi kesimpulan dari thesis dan argument-argument diatasnya. Reiteration juga biasa disebut dengan conclusion.


Language Features
  •  Menggunakan simple present
  •  Mengunakan reltional process
  •  Menggunakan internal conjunction
  •  Menggunakan casual conjuction 



Nah, berikut ini adalah contoh dari Analytical Exposition :


The Importance of English
Thesis
English is the world's most important language. Recently, English is more and more popular in the world. English is learned and studied by a higher number of people of every passing day. It attract people due to the interestingness in its tune and structure.
Argument 1
Firstly, the very importance of English is that English is an International language. It also be the second language of many countries in the world. When we know English, we will never feeling confuse to communicate with the citizens of most countries all over the world.
Argument 2
Secondly, English in now taking an important part in the chance to take a job. If we know English and good at it, the possibility of promotion in position is even higher. In US, the English speakers earn more money than non - English speakers.
Argument 3
And then the next is, English is the language of science and technology. If you want to excel in science,   follow new trends, knowing new gadget and technology, modernization of developing world, you need to know English whatever age you are in.
Argument 4
The last, if you know English, you can teach your children English. Or, if they already learned it at school, you can communicate with them in English.
Reiteration
From the facts above, there are many advantages of using and mastering English. It can also be used as a device to measure our quality in daily life. And maybe someday English will be the only language in the world.

Rabu, 13 November 2013

Hati yang Terserak

Guru Bahasa Indonesiaku bilang.. Ini puisi alay.. :D
silahkan dinikmati.. :))

Hati yang Terserak

Bulan emas tinggal separuh
tersenyum melihatku berbaring
termenung diatas trampolin 
yang bergoyang bersama angin
terpejam mataku perlahan
kuhela nafas sedalam lautan
samar kulihat kau menoleh dari kejauhan
tersenyum lemah melambai tangan 
hatiku lantas berserakan
lebur dan lepuh
lebih hancur dari serpihan puing
setitik air mata 
hadir bersama senyum kala ku menatapmu 
dan terseok aku menggapaimu
kau malah terbang tinggi
dan bersembunyi dibalik awan
nyanyian rumput menampar keras pipiku
mataku memanas, serakan hatiku bertambah lagi
setelah aku sadar kau tinggallah ilusi
lelah aku bersanding dengan hampa
kau yang telah melambung jauh 
membubung tinggi bersayapkan asap
dan menjadi salah satu bintang pemalu di atas sana
secuil tawamu, mampu mengembalikan segala asa
secangkir senyummu bagai ribuan tenaga kuda
yang mampu merangkai semua puzzle hatiku
yang telah terserak karenamu...

Minggu, 10 November 2013

Bismillah.. :)

assalamualaikuum.. :)

sudah lama sebenernya aku punya blog.. ya belom terlalu lama juga sih..
blog yang ''gak sengaja'' kebuat gara-gara tugas TIK 2 minggu lalu.. hehe
yah .. mudah-mudahan aja dengan ketidak-sengajaan ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk kedepannya..

aku juga suka nulis sih.. tapi gak pernah bisa bener-bener serius kl nulis...
suka nulis tuh paling hanya sekedar corat-coret 1-2 kata yang mendadak terlintas dibenak ku.. :))

sekali lagi..
dengan bismillah.. aku persembahkan segala coretan ini untuk pembaca sekalian.. :))

Wassalamualaikum..